FIELD TRIP JURNALISTIK POTRET SANITASI MASYARAKAT DI KABUPATEN WAY KANAN

11 Oktober 2019 | Administrator | 182 Dilihat

Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, dikunjungi oleh para jurnalis dari berbagai media cetak maupun media elektronik yang berasal dari Kota Bandar Lampung dan DKI Jakarta. Mereka terdiri dari jurnalis televisi (MNC Group, Metro TV), jurnalis radio (RRI, El-Shinta), jurnalis surat kabar/majalah cetak/online (Koran Kompas, Tempo English, Majalah Gatra, Lampung Post, Radar Lampung, Tribun Lampung, Duajurai.com, Jejamo.com), dan Team Voice For Change Advocacy (YKWS dan SNV), Kamis (10/10/2019).

Kunjungan ini bertujuan untuk menggali informasi secara langsung terhadap strategi inovasi yang telah dilakukan sehingga membawa Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, yang merupakan bagian dari Kabupaten Way Kanan,  dapat meraih Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Selain itu juga untuk meningkatkan peran jurnalis dalam kampanye isu sanitasi dan menjadi media publikasi dalam upaya advokasi peningkatan akses sanitasi, ujar Febrilia Ekawati, Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih, selaku ketua panitia pelaksana kegiatan ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan, Anang Risgiyanto, S.KM., M.Kes., menyatakan bahwa ada berbagai strategi inovasi yang dilakukan untuk mencapai ODF, salah satunya adalah local wisdom atau kearifan lokal yang menjadi landasan kuat untuk pelaksanaan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang baik, seperti yang diterapkan di Kampung Bali Sadhar Utara, Kecamatan Banjit, yang mayoritas warganya adalah suku Bali dengan agama Hindu.

Kearifan lokal yang diterapkan ini berupa “Awig-awig”, merupakan hukum adat yang disusun dan harus ditaati oleh krama (masyarakat) desa adat/pekraman untuk mencapai Tri Sukerta, yaitu Sukerta tata Parahyangan (keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan), Sukerta tata Pawongan (keharmonisan hubungan manusia dengan manusia), dan Sukerta tata Palemahan (keharmonisan hubungan manusia dengan lingkungannya), yang merupakan perwujudan dari ajaran Tri Hita Karana.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Banjit, Wayan Lameg, menegaskan bahwa awig-awig ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, dan telah dibukukan sejak tahun 2017. Awig-awig ini bersifat partisipatif dengan melibatkan para pemangku kepentingan, sehingga penerapannya dapat lebih efektif. Salah satu hal yang diatur adalah tentang larangan Buang Air Besar Sembarangan (BABS), larangan buang sampah sembarangan, serta larangan yang melanggar kesehatan lingkungan, baik itu di jalan, halaman rumah, kebun, maupun sungai. Ada sanksi yang berikan kepada siapa pun yang melanggar aturan yang telah ditetapkan dalam awig-awig, berupa teguran, denda yang harus dibayar, bahkan dikucilkan atau tidak diajak bergaul dalam masyarakat.

Pendekatan budaya ini menjadi cara jitu dalam rangka merubah perilaku masyarakatnya untuk hidup secara saniter dan berprilaku secara higienis. Aksi ini termasuk dalam faktor predisposisi (predisposing factor) yang mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi dan sebagainya.